Greetings!

Welcome to FARCulinary! It is a food blog managed for food enthusiasts like you who are looking for Fun, Affordable, and Relatable culinary adventures! You don't have to be super fancy to experience tasty food! Enjoy :)
Showing posts with label noodles. Show all posts
Showing posts with label noodles. Show all posts

Sunday, 15 September 2013

Bakmi Buncit Margonda Depok


Kalau kamu jalan-jalan ke jalan Margonda Raya di kota Depok, sempatkanlah mampir ke sebuah tempat kecil namun istimewa ini, Bakmi Buncit.

Selama empat tahun menjadi penduduk temporer di Depok, saya malah baru ngeh sama tempat ini sekarang setelah saya tidak lagi tinggal di sana.

Terletak di sebuah ruko kecil tepat di sebelah kanan Depok Town Square alias Detos, tempat ini lumayan mungil dan mudah luput dari orang-orang yang memandang sekilas saja. Awalnya kaca film jendela restoran yang membuat ruangan di dalam jadi terlihat gelap sempat membuat saya ragu untuk mencoba makan di tempat ini. Namun setelah masuk ke dalam, tempat ini ternyata berpenerangan cukup dan bersih.




Dari sekian banyak menu Chinese food yang ada, saya memutuskan untuk mencoba menu klasik, mie ayam bakso. Semua rekomendasi dan ulasan dari orang-orang yang menyatakan bahwa mie di tempat ini enak sekali dan patut dicoba menjadi terkonfirmasi saat di suapan pertama. Ya, mie ini memang enak! Rasanya mienya sendiri sudah cukup berbumbu dan gurih, topping yang disajikan (ayam, bakso, sayuran) bersih dan empuk. Yang saya suka dari sayuran dan mienya adalah rasanya yang tidak tawar dan telah dibumbui dengan cukup sukses. Sering kita temui topping sayuran di dalam bakmi yang masih terasa tawar, bahkan cenderung pahit.

Harga untuk seporsi mie ayam bakso di tempat ini adalah Rp.27000. Memang sedikit over-priced dari mie-mie lain pada umumnya, namun saya rasa sebanding dengan rasa yang ditawarkan. Bagi saya sih, lebih baik saya membayar sedikit lebih mahal untuk makanan enak daripada membayar mahal untuk makanan yang tidak enak.

Setelah (sok-sokan) menelisik dan meneliti isi dan rasa bakmi yang saya makan, ternyata saya menemukan tongcai di dalam mangkuk bakmi saya. Tongcai adalah sayuran yang terbuat dari lobak yang diasinkan. Saya rutin melihat tongcai di dalam bubur ayam yang dijual ibu saya, namun ini pertama kalinya saya menemukan tongcai sebagai topping bakmi (meskipun saya tahu dari beberapa orang bahwa itu hal yang umum). Kunci dari tongcai yang enak adalah cara membersihkannya. Sebagai anak seorang pedagang bubur yang rutin membersihkan tongcai, saya menjadi tahu bahwa tongcai harus dicuci berkali-kali sebelum menjadi layak untuk dimakan. Air pertama cucian tongcai sangat sangat hitam. Orang yang pernah mencuci tongcai pasti akan mengecek tongcai yang dia temui di menu lain, bersih atau tidak. (sumber: ibu dari penulis)

Teman makan saya memesan menu lain yaitu kwetiaw goreng. Penggemar kwetiaw pasti akan menyukai kwetiaw di tempat ini. Selain porsinya yang besar, tekstur kwetiawnya juga sangat kenyal dan tebal. Dijamin mengenyangkan. Saya yang bukan penggemar kwetiaw pun tergoda dan ikut mencicip.

Kwetiaw Goreng
IDR 30000
Bakmi Ayam Bakso
IDR 27000
Will I come back for more? I surely will. Have an amazing meal wherever you are, guys!

Monday, 27 May 2013

Rumah Makan Baji Pamai and Rumah Makan Marannu: Authentic Ujung Pandang Food

Last week, I was wandering around Boulevard Street Kelapa Gading and texted my friend: "Do you have any recommendations of food worth-trying here?" And she replied: "Just try out anything randomly. Everything on that street is guaranteed delicious." It's true indeed. This area is considered to be one of so many Jakarta's food paradiso. Seafood, Japanese, authentic Indonesian, Chinese, Malaysian, all genres of food, you name it. They're here.

Being an insecure tummy that I am, I decided not to try out on anything new and went to two of my subscribed restaurants: Rumah Makan Baji Pamai and Rumah Makan Marannu. Both  serve authentic Ujung Pandang food. I've been a loyal customer in both restaurants since I was in kindergarten. Lately, I haven't visited in a while.

First, I went to Rumah Makan Baji Pamai. Located on Boulevard Street, next to Nasi Kenanga. Its specialty is Bakmi Ujung Pandang. I saw the place had been upgraded here and there. The design is way cleaner and more modern, and how I love the bathroom. The closet's been upgraded with seating and eco-washer, like those you would encounter in big malls. It's kinda out of topic, but I really appreciate restaurants that provide comfortable bathrooms for the customers. Hygiene first!


Bakmi Spesial Kecil
IDR 26000

Bakmi Biasa Kecil
IDR 24000

The  noodles was like nothing you ever tasted. I couldn't recall any kind of Chinese noodle that has an alike texture. This noodle was big and thick like spaghetties, but chewy and curly like Chinese noodles. It's unique in all of its entity. I ordered Bakmi Spesial and Bakmi Biasa. They were just the same, only that the Spesial had more pork toppings and the chicken toppings was the breast part, while the Biasa was the thigh part.

One portion is served with three dumplings and you can ask whether you want 'em all to be fried or boiled. Or you can have both, boiled and fried. For me personally, the small portion was already fulfilling enough. Probably it was the noodles, because they're so thick and chewy.

Next, I went to Rumah Makan Marannu, still on the same street, but it's on the other side of the street, across Indomart.

Es Pisang Ijo

Coto Makassar

Konro Bakar

I forgot all of the prices and didn't keep the receipt either, but they were probably ranged from IDR 20000-50000.

The Es Pisang Ijo wasn't really like the modern version that you would find in booths or food stalls, it is more of the traditional kind, only consists of banana, shaved ice, vla, and syrup. No other overrated toppings such as cheese, or chocolate, etc. The smooth texture of the green coat; the sweetness of the vla, banana and syrup all combined in one bowl is a heaven-like combo.

The meat in the Coto and the Konro Bakar was cooked just right. They might look too small at first, but after finishing it, trust me for regular tummies, you would be full. In the right amount. The Konro Bakar was served with peanut sauce (almost satay-sauce like) and a bowl of coto soup, which I found pretty useful to neutralize all the greasiness from the meat and the savory from the sauce.

When planning to visit Marannu, I suggest that you don't wash your hair first, and try not to wear your best outfit, because it would be such a waste. The whole place will be covered with smokes from the roaster and the griller, and they will patched onto your body instantly.

Overall, if you want a good ol' dose of Ujung Pandang food in Jakarta, make sure to visit these places. In my opinion, Marannu still serves the best Konro Bakar in town. Nothing can beat it, so far. So if you have anything in mind, that could probably beat Marannu to second place, just lemme know!

Have a great day, and enjoy your meal wherever you are now! Godspeed :)

Tuesday, 7 May 2013

FARC Goes To Bogor!

Hari Minggu lalu, seujug-ujug saya dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke kota hujan untuk jalan-jalan kuliner alias jalan-jalan rakus alias jalan-jalan yang bener-bener cuma buat makan-makan doang. Setelah para lelaki bersiap memakai celana ala Tupac Shakur dan para wanita memakai celana ibu hamil, akhirnya kami pun berangkat ke Bogor! Yay!

Saya sebenarnya ga tahu sama sekali tentang perkulineran Bogor, selain Pia Apple Pie yang tempatnya semakin gorjes saja dan Kebun Raya Bogor (maaf, kenapa ini masuk divisi perkulineran ya? Apakah saya makan rumput?). Mumpung ada teman yang mengerti tentang dunia Bogor, saya langsung mengiyakan ajakan jalan-jalan kali ini.

Tujuan pertama kami hari itu adalah Jalan Surya Kencana. Setelah galau banget sekitar dua detik, kami memutuskan untuk makan di tempat di bawah ini.


Kadang-kadang menggelar menu di depan toko secara grandeur seperti ini lebih efektif untuk mengundang orang untuk masuk daripada memajang foto. Penggiat bakso dan mie ayam pasti akan sangat tergugah untuk menjelajah ke dalam. 


Bakso Malang + Bakso Kotak
IDR 10000

Untuk yang mampir ke sini wajib banget mencoba bakso demitnya yang entah kenapa kok tidak berhasil saya temukan di menu yah? Bakso demit ini bakso urat biasa, hanya saja di dalamnya dimasukkan cabai dan sambel bakso. Lain dengan bakso kotak dan bakso rudal yang dagingnya sudah tergiling dengan lembut, serat daging di bakso demit masih agak kasar. Menjadi suatu sensasi tersendiri mengunyah serat daging dan cabai dalam satu suapan yang montok. Sesuatu lah pokoknya. Uuuugh jadi pengen nyanyi 'abang tukang bakso mari mari sini saya mau beli!' sambil senam sehat ala Vicky Burki deh!

Secara umum, ya rasa bebaksoan di tempat ini enak dan patut dicoba sih, namun yang kurang suka asin bisa tambahin kecap manis lebih banyak karena kuahnya asin di atas rata-rata. Entah hari itu saja atau hari-hari lainnya juga. Bahkan bagi saya yang pencinta asin, menurut saya itu sangat asin. Dari segi porsi dan rasa, 10000/porsi amat sangatlah worth it.

Beranjak tidak jauh dari DQ Putra Arema, ada juga restoran soto mie yang kata teman saya sih enak banget. Setelah diiming-imingi bahwa di situ juga tersedia 'ketidakhalalan' maka saya semangat dan riang gembira pergi ke situ.


 Nasi Campur
IDR 25000

 Mie Babi Panggang <3
IDR lupa

Sebagai seorang keturunan Cina dan pencinta makanan Cina (dan segala macam makanan sih sebenarnya), saya selalu merasa gembira setiap kali bertemu makanan-makanan semacam yang ada di atas ini.

Kunci dalam setiap nasi campur Cina-Peranakan (menurut saya) ya adalah nasinya. Nasinya harus pulen, berani, nantangin, dan lebih yo'i lagi kalau ditim. Kalau boleh jujur nasi campur si restoran Agak Pedih alias Agih ini agak mengecewakan buat saya yang berharap bahwa nasinya akan berupa nasi hainan atau nasi tim. Pasti lebih tsedap, kapten! Namun berbagai macam lauk yang tertata dengan imut dan manja di atas nasinya tidak mengecewakan. Untungnya. Semua dagingnya termasak dengan empuk. Nilai plus plus plus bagi saya yang memiliki gigi kecil nan rapat layaknya orang yang lagi pedekate, yang selalu mengundang daging untuk nyangkut dengan betah di sela-selanya.

Mie babi panggangnya juga gak kalah enaknya. But then again, saya jarang menemukan orang Cina atau restoran Cina yang menjual mie yang tidak enak rasanya. Jarang sekali.

Setelah puas membabi-buta, kami mencari sesuatu yang bisa memuaskan hasrat sweet tooth kami. Teman kekeuh ingin mampir ke Surabi Duren di Jalan Sukasari. Sebagai bukan pencinta duren, namun pencinta lelaki, saya pun ngikut-ngikut saja. Tempatnya seperti layaknya warung-warung tenda kaki lima biasa, terletak di jalan Sukasari, hampir mendekati tikungan.

 Kurang lebih gini tampilannya dilihat dari sisi dalam. Mobil Mirage putih itu namanya Alberta. *ga ngonteks banget sih tapi dapet titipan suruh nyantumin nama si Mirage cantik itu di blog ini,so here it goes :')*

 Selain surabi duren ternyata ada juga rasa-rasa lainnya. Namun karena tempatnya kurang yo'i untuk hangout ataupun menunggu terlalu lama, kami hanya memesan surabi duren saja.

Surabi Durian Polos
IDR 6500

Ada beberapa pertanyaan di benak saya, seperti: Mengapa di banner tulisannya 'duren' tapi di menu 'durian'?  Mengapa ada menu 'surabi durian oncom'? Mengapa saya hidup? Ah entahlah, lupakan. Yang pasti selain surabi duren biasa, ternyata masih banyak rasa-rasa lainnya yang disediakan, termasuk surabi nangka dan surabi mayonnaise. Ada juga roti bakar, indomie, colenak dan pisang bakar.

Surabinya agak terlalu tebal untuk ukuran surabi, lebih tepat disebut bakpao mini mungkin. Saya memberanikan diri mencoba makanan ini for the sake of reviewing, and it was not that bad. I can barely taste the durian. But it was actually the downfall for my durian-loving friends. Esens atau perasa duriannya terlalu mengganggu bagi mereka. They actually hoped the sauce would be made from real durian meat. Well, that's what you get from expecting too much from a durian. Moohahaha.

Tujuan berikutnya adalah Jalan Pangrango. Di mana di situ kami mengincar sebuah restoran yang terkenal akan pizza bakarnya, Kedai Kita. Karena perut yang masih lumayan penuh, kami mengaso sebentar di Pia Apple Pie yang terletak tepat berseberangan dengan Kedai Kita.

Saya pernah mampir ke situ sekitar dua tahun yang lalu, dan sekarang tempat itu sudah berubah menjadi tempat hangout yang asik dan nyaman sekali. 


 Mini Cheese Pie
IDR 5000

Mini Apple Crumble Cake
IDR 5000


 A super duper affordable range of menu, consisted of pies, pie crusts,
and apples-contained dishes!


Ever since I tried out Blacklisted's (a coffee shop in Puri Indah Mall, you should try out that one too) apple crumble pie, I got a little bit too obsessed with apple crumble pies. So of course I had to try the one they're selling here! And it was really goo-hood.. I even bought the regular portion to be served at home as a sweet complementary to my morning milk :)

The cheese pie was good, only to those who love rum, because it contains rum (it's not written on the menu but I can taste it on the first bite). I have really low-tolerance for rum. Not that I drink alcohol that much, but compared to other alcoholic drinks, I get warm up more quickly and easier on rum. Shame on me. So I didn't really enjoy the cheese pie, but I'm sure you would!

Setelah sebatang-dua batang, segelas-dua gelas, dan sepiring-dua piring, kami beranjak ke tujuan terakhir kami malam itu, Kedai Kita. The service was kinda suck, and it has never changed since the last time I went there, which was last year. Considering that it was weekend, they should've anticipate the crowd by, I don't know, maybe hire some more employees? Duh, entrepreneurs these days. Di tempat ini tidak ada seating system atau waiting list. Yang ada hanyalah rebut-rebutan dan cepet-cepetan dapet meja. Untungnya pesanan-pesanan kami tidak datang terlalu lama malam itu, itu semua karena kami secara konstan terus menerus memanggil dan mengingatkan pelayan manapun yang lewat akan pesanan kami.



BBQ Smoked Beef Pizza
IDR 47000

Margarita Pizza
IDR 47000

The pizza has a nice taste of woodfire (as promised) to it, and the crust was really crunchy. Smokey and neat, if I might say. Our favorite that night was the Margarita Pizza. It is basically a cheese pizza and has nothing to do with the cocktail Margarita. The taste was simple yet solid and dignified. Asek.

For me, a culinary trip is not a trip unless you go with the people you love and comfortable with. It would be  better to go with your best friends. You know their taste and what they usually eat and like, so it makes it more fun and easier for you to mix and match your orders.

A culinary trip is all about sharing and experience the foodgasm together in a blissful condition. Maybe it's like weed, with more fat. There FARC went to Bogor. Enjoy your meal wherever you are right now, and.. Godspeed! :)

Bonus pics:
 Akang Surabi KW Super

All the happy tummies :)